BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Istirahat dan tidur merupakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh semua orang. Untuk dapat berfungsi secara optimal, maka setiap orang memerlukan istirahat dan tidur yang cukup. Tidak terkecuali juga pada orang yang sedang menderita sakit, mereka juga memerlukan istirahat dan tidur yang memadai. Namun dalam keadaan sakit, pola tidur seseorang biasanya terganggu, sehingga perawat perlu berupaya untuk mencukupi ataupun memenuhi kebutuhan tidur tersebut.
Secara umum tidur ditandai dengan aktivitas fisik minimal, tingkatan kesadaran yang bervariasi, perubahan-perubahan proses fisiologis tubuh dan penurunan respon terhadap rangsangan dari luar. Secara detail tanda-tanda tidur ini akan dibahas pada macam / pola tidur.
Diduga penyebab tidur adalah proses penghambatan aktif. Ada teori lama yang menyatakan bahwa area eksitatori pada batang otak bagian atas, yang disebut “sistem aktivasi retikular”, mengalami kelelahan setelah seharian terjaga dan karena itu, menjadi inaktif. Keadaan ini disebut teori pasif dari tidur. Percobaan penting telah mengubah pandangan ini ke teori yang lebih baru bahwa tidur barangkali disebabkan oleh proses penghambatan aktif. Hal ini terbukti dari suatu percobaan dengan cara melakukan pemotongan batang otak setinggi regio midpontil, dan berdasarkan perekaman listrik ternyata otak tak pernah tidur. Dengan kata lain, ada beberapa pusat yang terletak dibawah ketinggian midpontil pada batang otak, diperlukan untuk menyebabkan tidur dengan cara menghambat bagian-bagian otak lainnya.
B. Tujuan Penulis
Tujuan kami mengangkat topik ini agar para pembaca bisa mengetahui pengertian dari istirahat dan tidur, tentang fisiologi tidur, jenis serta tahapan tidur, faktor yang mempengaruhi tidur dan gangguan saat tidur.
Bab II
Dasar Teori
A. Tinjauan Buku
Semua makhluk hidup memerlukan istirahat setelah melakukan aktivitas atau berbagai kegiatan. Karena aktivitas tersebut menggunakan jaringan sel hidup, sehingga akan timbul kerusakan pada jaringan tersebut, karenanya makhluk hidup perlu istirahat untuk memperbaiki kerusakan yang dimaksud.
Mengenai tidur ini, tidak ada aturan kaku dan ketat yang diberlakukan, karena istirahat tidur ini tergantung pada usia, jenis pekerjaan, temperamen setiap individu. Bayi dan anak-anak memerlukan tidur lebih banyak dibandingkan orang dewasa. Pada orang-orang yang sudah berumur sebenarnya lebih memerlukan istirahat daripada tidur yang sebenarnya. Selama berbaring mereka lebih banyak menggunakan waktu untuk mengubah-ubah posisi berbaringnya saja. Orang yang bekerja dengan menggunakan otak atau pikirannya memerlukan lebih banyak tidur dibandingkan dengan orang yang bekerja dengan fisiknya. Sebagai suatu ukuran, orang dewasa yang sehat dan banyak bekerja dengan otak/pikiran biasanya tidur selama 7 jam. Malam hari adalah waktu terbaik untuk tidur. Hal ini bukanlah masalah kebiasaan saja bahwa orang-orang yang bekerja pada siang hari akan tidur pada malam hari, namun secara ilmiah terlihat bahwa siang hari lebih cocok untuk bekerja dan waktu malam digunakan untuk beristirahat/tidur.
Posisi Tidur yang Baik
Tidur berbaring dengan posisi telentang itu kurang sehat, karena menekan atau menyesakkan tulang punggung, bahkan kadangkala bisa menyebabkan ke toilet/wc , juga tidur tengkurap atau menelungkup tidak praktis untuk pernapasan. Banyak tidur pada sisi kiri badan (menghadap kekiri) bisa mengganggukesehatan kita, karena menghimpit jantung sehingga sirkulasi darah terganggu dan mengurangi pasokan darah ke otak. Posisi tidur yang terbaik menurut sains adalah pada sisi kanan tubuh ( menghadap kr kanan). Fakta ini telah di uji melalaui riset modern yang panjang untuk membuktikan kebenaran ajaran Islam yang berkualitas, sebagaimana Rasulullah SAW menganjurkan kepada para pengikut beliau untuk tidur berbaring pada sisi badan bagian kanan.
B. TEORI PENDUKUNG
Istirahat dan Tidur juga merupakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh semua orang . untuk dapat berfungsi secara optimal, maka setiap orang memerlukan istirahat dan tidur yang cukup. Tidak terkecuali juga pada orang yang sedang menderita sakit, mereka juga memerlukan istirahat dan tidur yang cukup memadai. Namun dalam keadaan sakit pola tidur seseorang biasanya terganggu sehingga perawat perlu berupaya untuk mencukupi ataupun memenuhi kebutuhan tidur tersebut.
Dan secara umum tidur ditandai dengan aktivitas fisik minimal, tingkatan kesadaran yang bervariasi. Secara jelas tujuan tidur tidak diketahui, namun diyakini tidur diperlukan untuk menjaga keseimbangan mental emosional dan kesehatan. Selama tidur seseorang akan mengulang (review) kembali kejadian-kejadian sehari-hari, memproses dan menggunakan untuk masa depan.
Istirahat dan tidur juga merupakan kebutuhan yang mutlak yang harus dipenuhi oleh semua orang, dengan istirahat dan tidur yang cukup menjadi sangat bernilai bagi ibu. Istirahat yang besar membawa pemulihan, dan penambahan kekuatan setelah melakukan aktivitas selama seharian.
BAB III
PEMBAHASAN
A. Pengertian Istirahat dan Tidur
Istirahat merupakan keadaan yang relaks tanpa adanya tekanan emosional dan bukan hanya berhenti dalam keadaan tidak beraktifitas tetapi juga berhenti sejenak kondisi yang membutuhkan ketenangan. Kata istirahat berarti suatu keadaan melepaskan diri dari segala apa yang membosankan, menyulitkan bahkan menjengkelkan.
Tidur merupakan suatu kondisi tidak sadar dimana individu dapat dibangunkan oleh stimulus(Guyton,1968) atau juga dikatakan sebagai suatu keadaan tidak sadarkan diri yang relatif, bukan hanya keadaan penuh ketenangan tanpa kegiatan akan tetapi lebih merupakan suatu urutan siklus yang berulang.
B. Fisiologi Tidur
Fisiologi tidur merupakan pengaturan kegiatan tidur yang melibatkan hubungan mekanisme serebral yang secara bergantian agar mengaktifkan dan menekan pusat otak untuk dapat tidur dan bangun. Salah satu aktifitas tidur ini diatur oleh sistem pengaktivasi retikularis yang merupakan sistem yang mengatur seluruh tingkatan kegiatan susunan saraf pusat termasuk pengaturan kewaspadaan dan tidur.Pusat pengaturan aktivitas kewaspadaan dan tidur terletak dalam mesensefalon dan bagian atas pons.
C. Jenis- Jenis Tidur
Berdasarkan proses tidur terdapat 2 jenis tidur. Pertama, jenis tidur yang disebabkn menurunnya kegiatan di dalam sistem pengaktifasi retikularis atau disebut dengan tidur gelombang lambat karena gelombang otaknya sangat lambat atau disebut dengan tidur NREM (Nonrapid eye movement). Kedua, jenis tidur yang disebabkan oleh penyaluran isyarat-isyarat abnormal dari dalam otak meskipun kegiatan otak mungkin tidak tertekan secara berarti atau disebut dengan jenis tidur paradox atau tidur REM (rapid eye movement).
1. Tidur gelombang lambat (slow wave sleep) / NREM (rapid eye movement).
Jenis tidur ini dikenal dengan tidur yang dalam, istirahat penuh, dengan gelombang otak yang lambat, atau juga dikenal dengan tidur nyenyak. Ciri-ciri tidur nyenyak adalah menyegarkan, tanpa mimpi atau tidur dengan gelombang delta. Ciri lainnya berada dalam keadaan istirahat penuh, tekanan darah menurun, frekuensi nafas menurun, pergerakan bola mata melambat, mimpi berkurang, metabolisme turun.
Perubahan selama proses NREM tampak melalui elektroensefalografi dengan memperlihatkan gelombang otak berada pada setiap tahap tidur NREM, yaitu:
Ø Pertama, kewaspadaan penuh dengan gelombang beta yang berfrekuensi tinggi dan bervoltase rendah
Ø Kedua, istirahat tenang dapat diperlihatkan pada gelombang alfa
Ø Ketiga, tidur ringan karna terjadi perlambatan gelombang alfa ke jenis teta atau delta yang bervoltase rendah
Ø Keempat, tidur nyenyak gelombang lambat dengan gelombang delta bervoltase tinggi dengan kecepatan 1-2 per detik.
D. Tahapan Tidur Jenis NREM
· Tahap I
Tahap ini adalah tahaap transisi antara bangun dan tidur dengan cirri sebagai berikut: rileks, masih sadar dengan lingkungan, merasa mengantuk, bola mata bergerak dari samping ke samping, frekuensi nadi dan napas sedikit menurun, dapat bangun segera selama tahap ini berlangsung selama 5 menit.
· Tahap II
Tahap II merupakan tahap tidur ringan dan proses tubuh terus menurun dengan cirri sebagai berikut: mata pada umumnya menetap, denyut jantung dan frekuensi napas menurun, temperatur tubuh menurun, metabolisme menurun, berlangsung pendek dan berakhir 10-15 menit.
· Tahap III
Tahap ini merupakan tahap tidur dengan ciri denyut nadi dan frekuensi napas dan proses tubuh lainnya lambat, disebabkan adanya dominasi sistem parasimpatis sulit untuk bangun.
· Tahap IV
Tahap ini merupakan tahap tidur dalam dengan ciri kecepatan jantung dan pernapasan turun, jarang bergerak, dan sulit dibangunkan, gerak bola mata cepat, sekresi lambung menurun, dan tonus otot menurun.
2. Tidur Paradoks/ Tidur REM (rapid ey movement)
Tidur jenis ini dapat berlangsung pada tidur malam yang terjadi selama 5-20 menit, rata-rata timbul 90 menit. Periode pertama terjadi 80-100 menit akan tetapi apabila kondisi orang sangat lelah maka awal tidur sangat cepat bahkan jenis tidur ini tidak ada. Ciri tidur REM adlah sebagai berikut:
a. Biasanya disertai dengan mimpi aktiv.
b. Lebih sulit dibangunkan.
c. Tonus otot selama tidur nyenyak sangat tertekan.
d. Frekuensi jantung dan pernapasan menjadi tidak teratur
e. Terjadi beberapa gerakan otot yang tidak teratur.
f. Mata cepat tertutup dan terbuka.
g. Penting untuk keseimbangan mental, emosi, juga berperan dalam belajar, memori, dan adaptasi.
Secara umum siklus tidur normal adalah sebagai berikut:
Bangun
(pratidur)
NREM I Tidur REM
NREM II NREM II
NREM III NREM III
NREM IV
Gambar siklus tidur
Sumber. Potter dan Perri, 1997
E. FUNGSI DAN TUJUAN TIDUR
Fungsi dan tujuan masih belum di ketahui secara jelas. Meskipun demikian, tidur di duga bermanfaat untuk menjagakeseimbangan mental, emosional, dan kesehatan. Selain itu, stres pada paru, sistem kardiovaskuler, endokrin, dan lain-lainnya juga menurun aktivitasnya. Energi yang tersimpan selama dari tidur diarahkan untuk fungsi-fungsi seluler yang penting. Secara umum terdapat dua efek fisiologis tidur, pertama efek pada sistyem saraf yang di perkirakan dapat memulihkan kepekaan normal dan keseimbangant antara berbagai susunan saraf. Kedua, efek pada struktur tubuh dengan memulihkan kesegaran dan fungsi organ dalam tubuh, mengingat terjadinya penurunan aktivitas organ-organ tubuh tersebut selama tidur.
F. KEBUTUHAN TIDUR
Kebutuhan tidur pada manusia tergantung pada tingkat perkembangan, table ini merangkum kebutuhan tidur manusia berdasarkan usia.
Tabel Kebutuhan Tidur Manusia
Umur
Tingkat Perkembangan
Jumlah Kebutuhan Tidur
0-1 bulan
1 bulan-18 bulan
18 ulan-3 tahun
3 tahun-6 tahun
6 tahun- 12 tahun
12 tahun-18 tahun
18 tahun-40 tahun
40 tahun-60 tahun
60 tahun keatas
Bayi baru lahir
Masa bayi
Masa anak
Masa prasekolah
Masa sekolah
Masa remaja
Masa dewasa
Masa muda paruh baya
Masa dewasa tua
14-18 jam/hari
12-14 jam/hari
11-12 jam/hari
11 jam/hari
10 jam/hari
8,5 jam/hari
7-8 jam/hari
7 jam/hari
6 jam/hari
G. FAKTOR-FAKTOR YANG MENGARUHI TIDUR
Kualitas dan kuantitas tidur di pengaruhi oleh beberapa faktor. Kualitas tersebut dapat menunjukkan adanya kemampuan individu untuk dan memperoleh jumlah istirahat sesuai dengan kebutuhannya. Diantara faktor yang dapat memengaruhinya adalah:
1. Penyakit
Sakit dapat memengaruhi kebutuhan tidur seseorang. Banyak penyakit yang dapat memperbesar kebutuhan tidur seperti penyakit yang di sebabkan oleh infeksi, terutama infeksi limfa. Infeksi limfa berkaitan dengan keletihan, sehingga penderitanya membuthkan lebih banyak waktu tidur untuk mengatasinya. Banyak juga keadaan sakikt yang menjadikan pasien kurang tidur, bahkan tidak bisa tidur.
2. Latihan dan Kelelahan
Keletihan akibat aktivitas yang tinggi dapat memerlukan lebih banyak tidur untuk menjaga keseimbangan energi yang telah di keluarkan. Hal tersebut terlihat pada seseorang yang telah melakukan aktivitas dan mencapai kelelahan. Maka, orang tersebut akan lebih cepat untuk dapat tidur karena tahap tidur gelombang lambatnya (NREM) di perpendek.
3. Stres Fisikologis
Kondisi stress fisikologis yang terjadi pada seseorang akibat ketegangan jiwa. Seseorang yang memiliki masalah fisikologis akan mengalami kegelisahan sehingga sulit untuk tidur.
4. Obat
Obat dapat juga memengaruhi proses tidur. Beberapa jenis obat yang memengaruhi proses tidur jenis golongan obat diuretik dapat menyebabkan insomnia, antidefresan dapat menekan REM, Kafein dapat meningkatkan saraf simpatis yang menyebabkan kesulitan untuk tidur, golongan beta bloker dapat berefek pada timbulx insomnia dan golonagn narkotik dapat menekan REM sehingga mudah mengantuk.
5. Nutrisi
Terpenuhinya kebutuhan nutrisi yang cukup dapat mempercepat proses tidur. Konsumsi protein yang tinggi maka seseorang tersebut akan mempercepat proses terjadinya tidur, karna di hasilkan triftopan yang merupakan asam amino hasil pencernaan protein yang di cerna dapat membantu mudah tidur. Demikian sebaliknya, kebutuhan gizi yang kurang dapat juga memengaruhi proses tidur, bahkan terkadang sulit untuk tidur.
6. Lingkungan
Keadaan lingkungan yang aman dan nyaman bagi seseorang dapat mempercepat proses terjadinya tidur. Sebaliknya lingkungan yang tidak aman dan nyaman bagi seseorang dapat menyebabkan hilangnya ketenangan sehingga memengaruhi proses tidur.
7. Motivasi
Motivasi merupakan suatu dorongan atau keinginan seseorang untuk tidur, dapat memengaruhi proses tidur. Selain itu, adanya keinginan untuk tidak tidur dapat menimbulkan gangguan proses tidur.
H. GANGGUAN/MASALAH KEBUTUHAN TIDUR
1. Insomnia
Merupakan suatu keadaan ketidakmampuan mendapatkan tidur yang adekuat, baik kualitas maupun kuantitas, dengan keadaan tidur yang hanya sebentar atau susah tidur. Insomnia terbagi menjadi tiga bagian yaitu:
Pertama, inisial insomnia yaitu ketidakmampuan untuk jatuh tidur atau mengawali tidur.
Kedua, intermiten insomnia merupakan ketidakmampuan tetap tidur, karena selalu terbangun pada malam hari
Ketiga, terminal insomnia merupakan ketidakmampuan untuk tidur kembali setelah bangun tidur pada malam hari.
Proses gangguan tidur ini kemungkinan besar disebabkan adanya rasa khawatir dan tekanan jiwa.
2. Hipersomnia
Merupakan gangguan tidur dengan kriteria tidur berlebihan. Pada umumnya lebih dari Sembilan jam pada malam hari, yang disebabkan oleh kemungkinan adanya masalah psikologis, depresi, kecemasan, gangguan susunan saraf pusat, ginjal, hati dan gangguan metabolisme.
3. Parasomnia
Merupakan kumpulan beberapa penyakit yang dapat mengganggu pola tidur seperti somnambulisme (berjalan-jalan dalam tidur) yang banyak terjadi pada anak-anak yaitu pada tahap III dan IV dari NREM. Somnambulisme ini dapat menyebabkan cedera.
4. Enuresis
Merupakan buang air kecil yang tidak sengaja pada waktu tidur atau istilah lain dikenal dengan nama mengompol. Enuresis ada dua macam, yaitu enuresis nokturnal, mengompol waktu tidur dan nokturnal umumnya sebagai gangguan tidur NREM.
5. Apnea Tidur dan Mendengkur
Mendengkur pada umumnya tidak termasuk gangguan dalam tidur, tetapi mendengkur yang disertai dengan keadaan apnea dapat menjadi masalah. Mendengkur disebabkan adanya rintangan terhadap pengaliran udara di hidung dan mulut pada waktu tidur. Terjadinya apnea dapat mengacaukan saat bernapas dan bahkan bisa menyebabkan henti napas. Apabila kondisi ini berlangsung lama, maka dapat menyebabkan kadar oksigen dalam darah dapat menurun dan denyut nadi menjadi tidak teratur.
6. Narcoleksi
Merupakan keadaan tidur yang tidak dapat di kendalikan, seperti saat seseorang tidur dalam keadaan berdiri, mengemudikan kendaran, atau tengah suatu pembicaraan. Hal ini merupakan suatu gangguan neurologis.
7. Mengigau
Merupakan suatu gangguan tidur bila terjadi terlalu sering dan di luar kebiasaan. Hasil pengamatan dapat menunjukkan bahwa hamper semua orang pernah mengigau dan terjadi sebelum tidur REM.
8. Gangguan Pola Tidur secara Umum
Merupakan suatu keadaan ketika individu mengalami atau mempunyai resiko perubahan jumlah dan kualitas pola istirahat yang menyebabkan ketidaknyamanan atau mengganggu gaya hidup yang diinginkan (Carpenito,LJ, 1995). Gangguan ini terlihat pada pasien memperlihatkan perasaan lelah, mudah terangsang, dan mudah gelisah, lesu dan apatis, kehitaman di daerah sekitar mata, dan sering menguap atau mengantuk. Penyebab dari gangguan pola tidur ini antara lainkerusakan transport oksigen, gangguan metabolisme, kerusakan eliminasi, pengaruh obat, nyeri pada kaki, takut operasi, terganggu oleh kawan sekamar, dan lain-lain.
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari makalah ini dapat disimpulkan bahwa istirahat dan tidur merupakan hal yang sangat penting bagi hidup kita. Semua makhluk hidup memerlukan istirahat setelah melakukan aktivitas atau berbagai kegiatan. Istirahat dan tidur tidak ada aturan ketat dan kaku yang diberlakukan karena istirahat tidur ini tergantung pada usia, jenis pekerjaan, temperamen setiap individu. Bayi dan anak-anak memerlukan tidur lebih banyak dibandingkan orang dewasa. Pada orang-orang yang sudah berumur sebenarnya lebih memerlukan istirahat daripada tidur. Orang yang bekerja dengan menggunakan otak atau pikirannya memerlukan lebih banyak tidur dibandingkan dengan orang yang bekerja dengan fisiknya.
B. SARAN
Kami harap agar para pembaca bisa mengetahui bahwa istirahat dan tidur merupakan kebutuhan yang mutlak yang harus dipenuhi oleh setiap orang. Setiap orang memerlukan istirahat dan tidur yang cukup untuk menjaga keseimbangan mental, emosional dan kesehatan, pemulihan serta penambahan kekuatan setelah melakukan aktivitas selama seharian. Bagi orang yang menderita sakit juga memerlukan istirahat dan tidur yang memadai sehingga perawat berupaya untuk mencukupi ataupun memenuhi kebutuhan tidur tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
http://google.com
Hidayat, AAA dan Uliyah, M. 2006.Keterampilan Dasar Praktek Klinik Kebidanan, Penerbit Salemba Medika. Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar