BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Pengunjung dan pasien merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya pertumbuhan kuman karena pengunjung dan pasien dapat membawa bakteri. Sehingga menyebar diruang perawatan misalnya, bersin, batuk, berbicara dan tertawa. Hal ini dikarenakan bakteri dalam mulut yang keluar karena batuk atau bersin dapat tersebar, sehingga kemungkinan terjadinya penularan infeksi nosokomial lebih besar. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa penularan infeksi nosokomial terjadi setelah 72 jam sejak pasien dirawat dirumah sakit.
- Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui transmisi kuman, cara penularan mikroorganisme, serta mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi proses infeksi dalam transmisi kuman.
BABII
DASAR TEORI
A. Tinjauan Buku
Menurut penelitian salah satu perangkat komputer rawan penyebaran kuman kepada pasien-pasien yang ada di rumah sakit yang kondisi fisiknya sedang melemah. Penelitian yang dilakukan di New York University Medical Center ini menggunakan tiga jenis kuman yang paling sering ditemukan di rumah sakit, yaitu Vancomycin Resistant Enterococcus faecium (VRE), Methicillin Resistant Staphylococcus Aureus (MRSA) and Pseudomonasaeruginosa (PSAE). VRE dan MRSA, merupakan kuman-kuman yang telah kebal terhadap antibiotika yang umum dipakai seperti vancomycin dan methicillin. Penelitian yang dipresentasikan pada pertemuan The Society for Healthcare Epidemiology di Amerika Serikat ini, dilakukan dengan menaruh kuman-kuman tersebut di keyboard dan tutup keyboard, untuk melihat seberapa lama kuman ini dapat hidup dan seberapa jauh kuman ini dapat berpindah melalui jari yang mengetik pada papan keyboard. Hasilnya, kuman VRE dan MRSA ini dapat tetap hidup hingga 24 jam setelah ditaruh pada papan keyboard dan tutup keyboard. Sedangkan kuman PSAE hanya dapat hidup satu jam pada
papan keyboard dan lima menit pada tutup keyboard dan semakin banyak kontak yang dilakukan pada keyboard yang terkontaminasi, akan semakin banyak kuman yang ditransmisikan melalui tangan. Hasilnya, untuk transmisi kuman, pada kuman MRSA sebesar 42-92%, untuk kuman VRE 22-50% dan untuk kuman PSAE 9-18%. Oleh karena itu, untuk mengatasi hal tersebut para ahli menganjurkan agar sebaiknya pengguna komputer mencuci tangan segera setelah selesai menggunakan komputer. Selain
itu dapat ditambahkan juga, desinfeksi secara teratur pada keyboard komputer.
papan keyboard dan lima menit pada tutup keyboard dan semakin banyak kontak yang dilakukan pada keyboard yang terkontaminasi, akan semakin banyak kuman yang ditransmisikan melalui tangan. Hasilnya, untuk transmisi kuman, pada kuman MRSA sebesar 42-92%, untuk kuman VRE 22-50% dan untuk kuman PSAE 9-18%. Oleh karena itu, untuk mengatasi hal tersebut para ahli menganjurkan agar sebaiknya pengguna komputer mencuci tangan segera setelah selesai menggunakan komputer. Selain
itu dapat ditambahkan juga, desinfeksi secara teratur pada keyboard komputer.
BAB III
PEMBAHASAN
- PENGERTIAN TRANSMISI KUMAN
Transmisi kuman merupakan proses masuknya kuman ke dalam tubuh manusia yang dapat menimbulkan radang. proses tersebut melibatkan beberapa unsur di antaranya:
- Reservoir merupakan habitat pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme dapat berupa manusia, binatang, tumbuhan maupun tanah.
- Jalan Masuk merupakan jalan masuknya mikroorganisme ketempat penampungan dari berbagai kuman, seperti saluran pernapasan, pencernaan, kulit dan lain-lain.
- Inang (host) tempat berkembangnya mikroorganisme yang dapat didukung oleh ketahanan kuman.
- Jalur Keluar yaitu tempat keluar mikroorganisme dari reservoir, seperti, sistem pernapasan, sistem pencernaan, alat kelamin dan lain-lain.
- Jalur penyebaran merupakan jalur yang dapat menyebarkan berbagai kuman mikroorganisme ke berbagai tempat seperti, air, makanan, dan udara.
- CARA PENULARAN MIKROORGANISME
Proses penyebaran mikroorganisme ke dalam tubuh, baik pada manusia maupun hewan, dapat melalui berbagai cara, di antaranya yaitu :
1. Kontak Tubuh. Kuman masuk ke dalam tubuh melalui proses penyebaran secara langsung, maupun tidak langsung. Penyebaran secara langsung melalui sentuhan dengan kulit, sedangkan melalui cara tidak langsung dapat melalui benda yang terkontaminasi misalnya seperti jarum suntik, infus maupun tempat tidur pasien.
2. Makanan dan minuman. Terjadinya makana dapat melalui makanan dan minuman yang telah terkontaminasi seperti pada penyakit tifus abdominalis, penykit infeksi cacing dan lain-lain.
3. Serangga. Contoh penyebaran penyakit kuman melalui serangga adalah penyebaran penyakit malaria oleh plasmodium pada nyamuk anopheles dan beberapa penyakit saluran pencernaan yang dapat ditularkan melalui lalat.
4. Udara. Proses penyebaran kuman melalui udara dapat dijumpai pada penyebaran penyakit sistem pernapasan.
- FAKTOR YANG MEMENGARUHI PROSES INFEKSI
- Sumber Penyakit. Sumber penyakit dapat memengaruhi apakah infeksi berjalan cepat atau lambat.
- Kuman penyebab. Kuman penyebab dapat menentukan jumlah mikroorganisme, kemampuan mikroorganisme masuk ke dalam tubuh, dan virulensinva.
- Cara Membebaskan Sumber dari Kuman. kuman dapat menentukan apakah proses infeksi cepat/lambat, seperti tingkat keasaman (pH), suhu, dll.
- Cara Penularan. Cara penularan seperti kontak melalui makanan atau udara, dapat menyebabkan penyebar.
- Cara Masuknya Kuman. Proses penyebaran tergantung dari sifatnya. Kuman dapat masuk melalui pernapasan, saluran pencernaan, kulit, dan lain-lain.
- Daya Tahan Tubuh. Daya tahan tubuh yang baik dapat memperlambat proses infeksi atau mempercepat proses penyembuhan.
- INFEKSI NOSOKOMIAL
Infeksi nosokomial adalah infeksi yang terjadi di rumah sakit dalam sistem pelayanan kesehatan yang berasal dari proses penyebaran sumber pelayanan kesehatan, baik melalui pasien, petugas kesehatan, maupun sumber lain.
a). Sumber Infeksi Nosokomial
Beberapa sumber penyebab terjadinya infeksi nosokomial adalah :
1. Pasien. Pasien merupakan unsur pertama yang dapat infeksi ke pasien lainnya, petugas kesehatan, pengunjung atau uf alat kesehatan lainnya.
2. Petugas Kesehatan. Petugas kesehatan dapat menyebarkan infeksi melalui kontak langsumg yang dapat rnenularkan berbagai kuman ke tempat lain.
3. Pengunjung. Pengunjung dapat menyebarkan infeksi yang didapat dari luar ke dalam lingkungan rumah sakit atau sebaliknya, yang didapat dari dalam rumah sakit ke luar rumah sakit.
4. Sumber Lain. Sumber lain yang dimaksud di sini adalah lingkungan rumah sakit yang meliputi lingkungan umum atau kondisi kebersihan rumah sakit atau alat yang ada di rumah sakit yang dibawa oleh pengunjung atau petugas kesehatan kepada pasien, dan sebaliknya.
5. PENCEGAHAN INFEKSI
Di masa lalu, fokus utama penanganan masalah infeksi dalam pelayanan kesehatan adalah mencegah infeksi. Infeksi serius pasca bedah masih merupakan masalah di beberapa negara, ditambah lagi dengan munculnya penyakit Acquired Immuno Defeciency Syndrome (AIDS) dan Hepatitis B yang belum ditemukan obatnya. Saat ini perhatian utama ditujukan untuk mengurangi resiko perpindahan penyakit tidaka hanya terhadap pasien tetapi juga lepada pember pelayanan kesehatan dan karyawan termasuk prakarya, yatu orang yang bertugas membersihkan dan merawat ruang bedah.
- TINDAKAN PENCEGAHAN INFEKSI
Beberapa tindakan pencegahan infeksi yang dapat dilakukan adalah:
1. Aseptik, yaitu tindakan yang dilakukan dalam pelayanan kesehatan. Istilah ini dipakai untuk menggambarkan semua usaha yang dilakukan untuk mencegah masuknya rnikroorganisme ke dalam tubuh yang kemungkinan besar akan mengakibatkan infeksi. Tujuan akhirnya adalah mengurangi atau menghilangkan jumlah mikroorganisme, baik pada permukaan benda hidup maupun benda mati agar alat-alat kesehatan dapat dengan aman di gunakan.
2. Antiseptik, yaitu upaya pencegahan infeksi dengan cara membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada kulit dan jaringan tubuh lainnya.
3. Dekontaminasi, tindakan yang dilakukan agar benda mati dapat ditangani oleh petugas kesehatan secara aman, terutama petugas pembersihan medis sebelum pencucian dilakukan. Contohnya adalah meja pemeriksaan, alat-alat kesehatan, dan sarung tamgan yang terkontaminasi oleh darah atau aliiran tubuh di saat prosedur bedah/tindakan dilakukan.
4. Pencucian, yaitu tindakan menghilangkan semua darah, eairan tubuh atau setiap benda asing seperti debu dan kotoran.
5. Desinfeksi, yaitu tindakan menghilangkan sebagian besar (tidak semua) mikroorganisme penyebab penyakit dari benda mati. Desinfeksi tingkat tinggi dilakukan dengan merebus atau dengan menggunakan larutan kirnia. Tindakan.ini dapat menghilangkan semua mikroorganisme, kecuaii beberapa bakteri endospora.
6. Sterilisasi, yaitu tindakan untuk menghilangkan semua mikroorganisme (bakteri, jamur, parasit, dan virus) termasuk bakteri endospora.
7. PEDOMAN PENCEGAHAN INFEKSI
Cara efektif untuk mencegah penyebaran penyakit dari orang ke orang atau dari peralatan ke orang dapat dilakukan dengan meletakkan penghalang di antara mikroorganisme dan individu (pasien atau petugas kesehatan). Penghalang ini dapat berupa upaya fisik, mekanik ataupun kimia yang meliputi :
1. Pencucian tangan, bertujuan untuk membersihhkan tangan dari segala kotoran, mencegah terjadi infeksi silang melalui tangan dan persiapan bedah atau tindakan pembedahan.
2. Penggunaan sarung tangan (kedua tangan), baik pada saat melakukan tindakan, maupun saat memegang benda yang terkontaminasi (alat kesehatan/kain tenun bekas pakai).
3. Menggunaan cairan antiseptik untuk membersihkan luka pada kulit.
4. Pemrosesan alat bekas pakai (dekontaminasi, cuci dan bilas, desinfeksi tingkat tinggi atau sterilisasi).
5. Pembuangan sampah.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
ü Transmisi kuman merupakan proses masuknya kuman ke dalam tubuh manusia yang dapat menimbulkan radang.
ü Proses tersebut melibatkan beberapa unsur yaitu Resevoir, Jalan Masuk, Inang (host), Jalur Keluar dan jalur penyebaran.
ü Serta memiliki cara penularan organisme yaitu kontak tubuh, makanan dan minuman, serangga maupun udara.
B. Saran
Kami harap agar pembaca bisa mengetahui bahwa transmisi kuman dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Oleh karena itu, kita semua harus menjaga ke sterilisasian tubuh kita dan lingkungan agar tidak terkontaminasi kuman.
DAFTAR PUSTAKA
ü Alimul.A.azis.2008. Ketrampilan dasar praktik klinik kebidanan.23 oktober 2010.Books.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar